Tak Bersalah = Ahok

Tangis haru seketika pecah begitu saja ketika pengadilan memutuskan Basuki Tjahaja Purnama atau biasa dipanggil Ahok dinyatakan bersalah dalam kasus penistaan agama dan harus menjalani kurungan penjara selama dua tahun. Tangisan tidak hanya ada di Jakarta, daerah yang dipimpinannya selama dua tahun, tetapi juga di hampir seluruh daerah di Indonesia.

Eitts, sebelum lebih jauh membaca, saya peringatkan, bagi anda yang sudah menutup pikiran anda dari pandangan lain, silakan segera tutup judul ini dan kembali ke Home. Nikmati tulisan saya yang lainnya.

Bukan apa-apa, saya malas berdebat dengan orang yang tidak mau terbuka dari pendapat lain.

Oke, kalau sudah mau baca tulisan selanjutnya, saya akan memulai dengan kata-kata seperti dari judul di atas, Tak Bersalah = Ahok.

Kenapa?

Bagi sebagian kalangan, kehadiran Ahok merupakan angin segar dikala teriknya matahari, atau bagai oase yang ada di padang pasir, atau menjadi obat penenang dikala segala tekanan permasalahan yang dihadapi seseorang. Alasannya sederhana, sosok yang dikatakan sebagai kaum minoritas itu, merupakan pahlawan yang tidak pernah kesiangan untuk memberantas kejahatan dan kekejaman Ibu Kota. Tidak ada lagi keruwetan dalam birokrasi, tidak ada lagi bencana banjir yang kerap terjadi, tidak ada lagi pemukiman kumuh yang mengganggu dan tidak ada lagi,,,intinya Ahok tidak bersalah, titik.!!

Di tengah pemberitaan media yang tidak menarik jika tidak ada masalah, Ahok mampu menyelesaikan masalah-masalah itu dan yang lain tidak pernah bekerja maupun berupaya untuk menyelesaikan masalah Jakarta. Bagi saya, itu lah yang seharusnya dilakukan oleh seorang kepala daerah, sama halnya ketika polisi lalu lintas yang bertugas menindak pengendara yang tidak taat aturan, hal yang seharusnya biasa. Tapi, iya Ahok tidak bersalah, titik.!!

Mendalami kasus yang menimpa Ahok akan banyak aspek yang harus dilihat, bukan hanya satu atau dua saja. Baik aspek politik, hukum, sosial dan budaya dan Agama.

Dari aspek politik, fenomena Ahok tidak lepas dari Pilkada DKI Jakarta yang menjadi ajang “manasin mesin” untuk pertarungan partai politik di tingkat nasional. Berbagai macam cara dilakukan oleh seluruh pihak demi mendapat jatah kursi tertinggi di Ibu Kota, termasuk memakai isu agama. Parahnya, Ahok membuka peluang itu. Tapi bagaimanapun Ahok tidak bersalah, titik.!!

Hampir semua pihak, tidak bisa menghantam Ahok melalui isu kinerja, karena setidaknya, tidak ada yang terlihat proyek mangkrak di jalan-jalan Jakarta yang baru saja dibenahi. Ucapan yang entah sengaja atau tidak, menjadi momentum untuk mengalahkan Ahok demi sebuah kursi yang teramat ‘panas’. Ini yang kemudian dimanfaatkan, karena pada 2014, isu ini mentah.

Dalam aspek budaya, kaum minoritas akan selalu dipandang sebagai kaum yang lemah karena keminoritasannya dan mereka merupakan sebagai suatu bagian yang harus didorong untuk maju dengan bantuan dari kaum mayoritas. Hal ini sudah menjadi dasar bagi pandangan hidup masyarakat Indonesia yang doyan membantu kaum yang dianggap lemah, karena bagaimanapun dalam suatu musyawarah dan mufakat, minoritas juga harus menjadi satu pertimbangan.

Dalam aspek sosial, kehadiran Ahok mengobati rasa kangen warga Jakarta atas gubernur jauh sebelumnya, Ali Sadikin. Dengan sifat tegas, berani melawan begundal baik kerah putih atau kerah biru di Jakarta, menjadi momok bahwa Jakarta yang keras harus dipimpin oleh orang yang keras. Sehingga dinilai dapat menghapus kekerasan di Ibu Kota.

Dalam aspek hukum, pengadilan sudah memutuskan. Sebagai warga negara yang baik, saya tidak akan banyak berkomentar. Tapi Ahok tidak bersalah, titik.!!

Putusan pengadilan yang menyatakan Ahok bersalah, kemudian memunculkan gerakan nasional untuk mendukung dia yang saat ini mendekap di penjara. Bukan tanpa alasan, semua gerakan itu terjadi karena Ahok dinilai sebagai sosok paling benar, sorry, tidak pernah salah di antara semua sosok atau tokoh yang dihadirkan oleh layar kaca dan linimasa.

Apapun, yang dilakukan oleh Ahok, merupakan sebuah pembenaran, maaf, kebenaran bagi mereka yang mungkin sudah mendukung pasangan Jokowi-Ahok pada 2012 lalu saat Pilkada Jakarta. Ahok memarahi anak buahnya di publik, tidak salah. Ahok bicara kasar sebagai pemimpin yang harusnya bisa dicontoh, juga tidak salah. Ahok meminta masyarakat untuk tidak mudah dibohongi ulama ataupun  kitab suci, juga tidak akan salah. Apapun itu, Ahok tidak pernah salah, titik.!!

Bukan saya mendukung gerakan aksi bela ulama dan aksi bela-bela lainnya yang belakangan muncul hanya untuk menyingkirkan si minoritas dari kursi tertinggi. Saya pun tidak percaya kalau gerakan itu murni kecuali 212. Selebihnya, itu sudah politik berbalut agama dan iya saya tidak pernah setuju dengan hal seperti itu.

Tapi jika dilihat dari dua hal itu, ada kemiripan. Sama-sama menganggap sang pemimpin merupakan “manusia setengah dewa” dalam kaca mata yang berbeda, satu kaca mata agama, satu kaca mata pemerintahan. Lantas, apa bedanya pendukung dadakan Ahok saat ini dengan pendukung dadakan Rizieq?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s