Beda Tipis, Martir dan Korban

 

 

Mendengar sebuah berita, seseorang cukup terkenal dari instansi ternama terluka. Martir atau Korban?

 

Sebagian sepakat, atau hampir khalayak banyak akan bersepakat bahwa dia yang terluka merupakan korban dari tindak kekerasan “Penjahat Kelas Kakap”, licin dan tidak bisa ditangkap menggunakan tangan kosong yang mengerahkan pasukan ‘ecek-ecek’ hanya untuk melukai. Iya, melukai. Bukan menghilangkan atau melenyapkan, karena ‘ecek-ecek’ hanya bertugas melukai.

Tapi, Sang Kakap bukanlah orang bodoh yang hanya menginginkan si “Korban” terluka, jauh dari itu. Penderitaan seumur hidup bagi keluarga dan instansinya merupakan tujuan utama dari Si Kakap. Saya adalah orang yang cukup menyangsikan bagaimana Si Kakap akan bertindak sebodoh itu “hanya” untuk melukai.

Lalu, apakah si Korban adalah seorang Martir? Sebentar, mari kita runut dari awal.

Apa itu korban? Dalam KBBI disebutkan bahwa korban merupakan sebutan bagi seseorang sebagai menyatakan kebaktian, kesetiaan dan sebagainya. Dalam kamus hukum, korban merupakan seseorang yang kehilangan haknya akibat orang lain atau kelompok yang merampas hak yang dilindungi oleh UUD. Jelas? Oke, saya akan memaknai ini menggunakan falsafah hukum.

Lalu apa itu Martir? Dalam KBBI, Martir disebut sebagai seseorang yang rela mati atau menderita demi kepercayaan atau kepentingannya. Hampir sama?

Sebelum jauh kesana, saya ingin berbicara mengenai CIA atau Central Intellegence Agency yang terbentuk pada 1947 oleh Presiden Amerika saat itu Harry S Truman yang menggantikan OSS bentukan perang dunia II. Sejarah itu terlalu panjang dan saya akan menyingkatnya pada saat terbongkarnya Watergate Scandal yang menjatuhkan Presiden Nixon pada 1974.

Informasi akhirnya terungkap bahwa saat itu CIA memiliki andil besar dalam terbongkarnya skandal penyadapan terhadap lawan Nixon saat masa kampanye. Beberapa mungkin pernah mendengar ini ketika Presiden keenam Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono menyinggungnya satu hari sebelum pencoblosan Pilkada DKI Jakarta putaran pertama 2017 lalu.

CIA saat itu diindikasikan memiliki rekam jejak yang buruk selama masa pendiriannya dengan melakukan hal-hal yang sudah ditugaskan tanpa ada pengawasan dari lembaga lainnya. Marwah CIA tercoreng dengan adanya kasus tersebut. Alasannya sederhana, mereka tidak ingin berada di bawah naungan lembaga nasional yang akan dibentuk oleh pemerintah. Kewenangan mereka yang tanpa batas untuk mematai-matai baik di dalam dan luar negeri, merupakan lahan ‘basah’ untuk melakukan apapun. Meski pada 1991, aturan mereka berubah seiring jalannya waktu.

Tunggu, melihat ada kemiripan? Hmmm. Coba saya jelaskan lebih lanjut.

‘Korban’ yang saya sebut di awal, juga merupakan anggota dari sebuah instansi terkenal dengan kewenangan yang mungkin hampir mirip. Hanya saja, CIA tidak berwenang menjadi penegak hukum, Instansi si ‘Korban’ bisa.

Pegawai instansi bukanlah orang-orang baru yang tidak mengetahui bagaimana harus menghentikan atau melanjutkan sebuah perkara. Mereka sangat berpengalaman mengenai hal itu, prioritas dan bukan prioritas oleh Instansi menjadi hal yang perlu dilaporkan kepada khalayak. Tetapi, bagaimana proses seleksinya, tidak ada yang tahu. Beberapa menyebut akan ada kegoncangan jika semua pelaporan dari warga yang merasa dirugikan perlu sebuah pengumuman. Beberapa yang lain terlihat masa bodo, asalkan sebuah kasus besar dengan nama besar, terseret didalamnya dan menjadi sebuah pemberitaan.

Alih-alih transparansi dan integritas yang tinggi menjadi sebuah kepercayaan yang mendalam di masyarakat, apapun yang dilakukan menjadi sebuah pembenaran hakiki atau setidaknya, mereka tidak pernah salah. Jikapun dinyatakan salah, serangan balik tidak hanya secara maya, tetapi juga aksi turun ke jalan.

Lalu, apa urusannya dengan Korban ataupun Martir?

Jika ditilik lebih lanjut mengenai si Kakap yang memiliki rekam jejak “tak tersentuh” menggunakan cara-cara yang lebih elegan, terlihat mustahil bagi saya untuk menyimpulkan  bahwa cara kotor melukai “Korban” akan diotaki olehnya. Sebaliknya, cara “hanya” melukai korban akan dilakukan oleh seorang yang sangat ecek-ecek. Siapapun itu, silakan terjemahkan sendiri.

Tapi, setidaknya anda bisa melihat siapa yang paling diuntungkan dengan hal ini. Oia, jangan lupa juga mengenai adanya wacana untuk mengubah peraturan. Itu saja, semoga pelaku bisa tertangkap secepatnya siapapun dia. Yakin tertangkap? Saya tidak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s