Hukum Untuk Siapa?

Mencari keadilan? Berharap pengampunan? Atau menuntut sanksi maksimal?

 

Apa yang saya sebut di atas berasal dari tiga perspektif berbeda. Dalam penuntutan, setidaknya terdapat tiga pihak yang berselisih, pihak pertama disebut pengadu atau pemohon, pihak kedua disebut teradu atau termohon, dan pihak ketiga biasa disebut dengan pihak terkait. Ketiga pertanyaan di atas mewakili masing-masing pihak yang berbeda dalam pandangan hukum.

Iya, hukum. Pernah mendengar? Dalam KBBI, Hukum adalah norma yang harus dipatuhi dalam setiap tingkah laku dan tindakan, apabila ada pelanggaran yang dilakukan oleh satu orang atau satu kelompok, mereka akan diancaman hukuman, entah ganti rugi ataupun kehilangan kemerdekaannya.

Memahami hukum bukanlah hal yang sulit. Setiap lingkungannya mempunyai norma dan budayanya masing-masing, bahkan  tercantum di dalam sebuah peraturan yang sifatnya lokal maupun nasional. Pengaturan dimaksudkan untuk mempertegas sebuah aturan hingga tertulis di atas kertas.

Pengambil keputusan dipermudah atas hal tersebut, karena aturan yang sudah tertulis mempunyai batasan untuk menghukum seseorang dan menyatakan orang atau kelompok tersebut bersalah atau tidak. Selain itu, aturan yang sudah tertulis juga sudah mencapai sebuah konsensus karena dibicarakan oleh pakar dan banyak pihak terkait, sehingga sulit untuk menolak hal itu, terlebih apa yang tertulis, sudah dilakukan selama ini.

Namun, bagaimana yang belum tertulis?

Setidaknya, ini yang masih menjadi perdebatan, apa yang belum tertuliskan, berarti belum memiliki batasan hukuman dan seiring perkembangan zaman, terlalu banyak perilaku manusia yang di luar dari hukum tertulis yang ada. Lalu bagaimana?

Dalam setiap daerah, sebuah lingkungan memiliki norma dan budayanya masing-masing. Perilaku di luar norma dan budaya yang ada, bukan berarti tidak bisa dicampur, sehinngga disebutlah akulturasi. Jika masyarakat setempat dapat menerima hal itu, maka perilaku yang baru akan dicampurkan dengan budaya yang lama, seiring berjalannya waktu dan kesanggupan budaya baru dapat mempertahankan diri.

Tetapi, jika tidak bisa diterima, maka hukum akan berjalan, secara sederhana, perilaku  baru akan diasingkan dengan cara masyarakat setempat. Saya berpikir bahwa di setiap budaya, memiliki filternya masing-masing dan itu akan diterapkan jika budaya baru datang tanpa permisi dan mengacaukan yang sudah ada.

Lantas bagaimana yang sudah tertulis, “seakan” tidak pernah tertulis?

Seperti tiga pertanyaan di atas yang sudah saya sebut sebelumnya, akan sangat menjadi persoalan karena ‘peniadaan’ ini akan berdampak pada hukumannya berikutnya, padahal, apa yang sudah tertulis adalah sebuah pelanggaran yang sudah disepakati bersama dengan seluruh konsekuensinya. Tapi, apa penyebab ‘peniadaan’ ini?

Mari kita urai, kenapa harus ditiadakan? Filsuf kenamaan Plato menyebut bahwa manusia adalh zoon politicon, atau makhluk yang sudah pasti berpolitik, apakah itu anda, saya atau orang lain yang sedang bermasalah dengan hukum. Kepentingan politik orang yang bermasalah dengan hukum akan memiliki porsi yang cukup besar dibanding dengan saya yang hanya sebagai penulis atau anda yang sedang membaca.

Dirinya memiliki kepentingan agar bebas dari penghakiman yang sifatnya sementara atau selamanya. Pelanggaran yang dilakukan sebisa mungkin dianggap tidak pernah dilakukan olehnya, jikapun terbukti maka meminimalisir hukuman menjadi jalan terakhir.

Bagaimana cara meniadakan? Ini mungkin adalah pertanyaan dengan sejuta jawaban dan akan terus berbeda, tergantung dari keinginan pengambil keputusan dan lain-lain. Tetapi, setidaknya terdapat satu cara yang paling ampuh dengan memakai rumus Harta, Tahta dan Wanita. Berikan harta, janjikan tahta, sediakan wanita. Cukup.

Lantas hukum untuk siapa?

Bagi saya, hukum bukanlah untuk ketiga pihak yang saya sebut dalam penuntutan, hukum dibuat untuk rakyat dan masyarakat yang sudah dari awal menerapkan hukumnya sendiri, sebelum peraturan tertulis itu ada. Sehingga, penegakan hukum adalah prioritas utama dalam sebuah kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s