Kecantikanmu Terseragamkan

 

“Putih, tinggi, rambut panjang, berat badan ideal, dan muka yang halus,”

Setidaknya, itulah kriteria yang saya miliki kepada para wanita. Sama? Iya, saya kira tidak akan ada perbedaan yang signifikan jika ada yang tidak sepakat dengan saya. Hanya beberapa poin saja yang akan ternegasikan.

Bagi kaum pria, kriteria di atas merupakan hal yang baku dalam konsep pemikiran mengenai kecantikan. Sebelum lebih jauh membahas bagaiamana bisa sama antara saya dan dengan beberapa pembaca, mari pahami dulu kecantikan dan sejarahnya.

Knight Dunlap dalam American Dissident Voice menyatakan bahwa definisi kecantikan seseorang sangat bervariasi dan berbeda antar ras, sehingga konsep kecantikan tidak akan dapat dibandingkan. Namun, Wolf (2002) menjelaskan dalam kehidupan patriarki, kecantikan menjadi sebuah kebenaran absolut, karena dikonstruksikan melalui norma dan  kehidupan yang telah dijalani selama ini.

Tidak ada yang salah dalam defenisi kedua pakar di atas, tetapi ketika saya menggabungkannya dengan konteks propaganda, apa yang akan anda pikirkan? Atau jika saya gabungkan dengan perusahaan kosmetik, apa yang terlintas?

Sebagian akan membantah pernyataan saya dan mengatakan bahwa kecantikan berasal dari dalam diri seseorang (inner beauty). Sebagian lainnya akan menyampaikan mengenai pandangan subyektif tentang arti kata cantik. Silakan.

Tapi begini, pernahkah melihat bahwa dari zaman ke zaman selalu ada wanita yang dianggap paling cantik di jagat raya? Kontes kecantikan yang disiarkan di seluruh dunia menjawab hal tersebut. Meski ada dua kontes, tapi yakinlah, itupun merupakan kepentingan politik perusahaan kecantikan. Iya, politik.

Mereka lah yang membuat persamaan paradigma antara saya dengan banyak pria di luar sana. Sebabnya cukup jelas, iklan yang ada di media massa akan mengubah pandangan cantik dari masa ke masa. Akibatnya, setiap generasi memiliki persepsi kecantikannya sendiri-sendiri.

Tersingkirlah para wanita yang tidak memiliki hal-hal yang saat sebutkan tadi di awal tulisan ini, karena secara tidak langsung, kami kaum pria ataupun para wanita akan menyebut mereka sebagai orang “Jelek” karena tidak ada satupun yang dimiliki olehnya dan secara tidak langsung, kita telah mendiskriminasi seseorang.

Paradoks Cantik Itu Sakit, saya rasa tidak berlebihan karena kaum wanita atau pria bahkan berlomba untuk mencapai kriteria yang dimaksud. Pemilik jasa kecantikan baik produk bahkan operasi plastik akan laku keras untuk memberikan pelayanan kepada pelanggan agar dianggap Cantik.

Bagi saya, kriteria itu adalah pelengkap atau bonus yang saya dapatkan ketika berhubungan dengan seorang wanita yang setidaknya bisa mengimbangi percakapan yang saya mulai. Meski, saya juga tidak akan bohong bahwa fisik adalah hal yang saya lihat terlebih dahulu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s