Belajar Dari Majapahit

Masa kejayaan kerajaan Majapahit dimulai pada saat dimulai pada 1350 hingga 1389, pada saat itu dipimpin oleh anak muda yang berusia 16 tahun bernama Hayam Wuruk, seorang cucu dari Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Didampingi Patih Gajah Mada yang membantunya menaklukan Kerajaan Galuh dalam Perang Bubat, Majapahit mencapai keemasannya. Pada masa kepemimpinan Hayam Wuruk, setidaknya Majapahit dapat memperluas wilayahnya hingga semenanjung Malaya hingga sebagian Filipina.

Memperluas hubungan dengan negara lain seperti Vietnam, Birma, Kamboja, Tiongkok dan Siam menjadi satu diantara keberhasilan Hayam Wuruk dalam memimpin Majapahit dalam kurun waktu 39 tahun lamanya. Dari sisi ekonomi, keberhasilan Majapahit kala itu tidak dapat dipandang sebelah mata. Luasnya wilayah, serta hasil pertanian yang melimpah, rakyat Majapahit dapat dipastikan sejahtera kala itu.

Begitu juga dengan sektor pertahanan kerajaan, setidaknya angkatan laut pada masa kepemimpinan Hayam Wuruk yang dipimpin oleh Laksamana Mpu Nala mempunyai peralatan tempur paling canggih yang dibuat langsung oleh Gajah Mada. Terlebih strategi perang kala itu, antara lain ; Cakra Manggilan, Supit Udang, dan Tapal Kuda, dinilai sangat kuat hingga tidak satupun kapal perang milik kerajaan lain dapat melewati daerah kekuasaan Majapahit.

Bila menilik dari seluruh hal di atas, maka Nusantara yang diucapkan oleh Gajah Mada saat Sumpah Palapa yang didalamnya termasuk wilayah Indonesia, sudah selesai mengalami masa kejayaannya. Kepemimpinan Presiden Soeharto selama 32 tahun dapat dikatakan sebagai masa kejayaan pemerintahan Indonesia.

Pada 1984, setidaknya Soeharto dapat melakukan swasembada pangan dengan produksi beras sebanyak 25,8 juta ton, meski banyak pihak menilai tidak diimbangi dengan cara tanam yang baik sehingga kualitas beras dirasa kurang. Soeharto juga dapat mengendalikan situasi keamanan, ekonomi dan politik yang kondusif kala itu dan julukan Indonesia sebagai ‘Macan Asia’ disematkan dari berbagai negara.

Meski di akhir kepemimpinannya begitu banyak pertentangan pro dan kontra terjadi, Soeharto membuktikan diri sebagai pemimpin yang dapat menyejahterakan masyarakat Indonesia saat itu dan tidak sedikit di waktu sekarang, kerinduan terhadap sosok Soeharto muncul kembali.

Sengkarut Berdemokrasi

Pasca-jatuhnya tampuk kekuasaan Soeharto pada 1998, Presiden Habibie pada hari pertama langsung membuat gebrakan dengan membuka keran demokrasi seluas-luasnya bagi masyarakat Indonesia sebagai pemenuhan tuntutan gerakan 98 yang mendesak tidak ada lagi kepemimpinan yang otoriter dan membungkam suara rakyat.

Sistem demokrasi di Indonesia rupanya tidak berjalan sebagaimana mestinya, kekuasaan di tangan rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat hanya menjadi isapan jempol belaka. Penegakan hukum ‘Berat Sebelah’ yang meruncing ke bawah dan tumpul ke atas menjadi hal lumrah dewasa ini.

Kondisi perekonomian yang mengharuskan pemerintah untuk “Meminta-Minta” kepada para pengusaha untuk mengembalikan uangnya yang berada di luar negeri dan dilindungi oleh undang-undang bernama Tax Amnesty, bukanlah contoh bahwa kekuasaan sepenuhnya berada di tangan rakyat.

Belum lagi, kepentingan politik yang semakin vulgar memperlihatkan pragmatisme dan transaksional, makin menjauhkan arti demokrasi yang disebut oleh Samuel Huntington (1998;62) yang menyatakan demokrasi akan terbentuk jika pemimpin sebuah negara dipilih secara umum, adil dan jujur, semua peserta bersaing dengan bersih dan masyarakat mendapatkan hak yang sama.

Tantangan Globalisasi

Patih Gajah Mada telah meninggal bersama dengan Hayam Wuruk pada Perang Paregreg. Kala itu, kerajaan Majapahit terbelah dua karena salah paham antara Bhre Wirabumi dan Wikramawardhana. Majapahit juga ditengarai kalah karena banyaknya pengaruh Islam dan membentuk kerajaan di tanah Nusantara.

Pengaruh kerajaan Islam yang berada di luar Majapahit juga mulai meredupkan kerajaan Hindu-Budha kala itu karena pengaruh yang sangat signifikan dari kerajaan Samudera Pasai yang berhasil menaklukan bagian barat Nusantara.

Hal yang sama terjadi saat ini, bonus demografi yang didapatkan Indonesia pada awal 2016 lalu, menjadi sebuah tantangan besar bagi negara berpenduduk 270 juta jiwa ini. Masuknya kultur budaya luar, bukan tidak mungkin akan mengubah  budaya masyarakat yang ada saat ini. Apalagi, jika keran itu dibuka secara luas tanpa penyaring.

Kerajaan Majapahit memang sudah tidak ada, tetapi sejarah mencatat, bahwa Majapahit memiliki peran besar terhadap perkembangan teknologi, budaya dan nilai-nilai yang ada di Indonesia. Lantas, apakah Indonesia juga akan menjadi sejarah?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s